Di arena, orang misterius itu melangkah maju, setiap langkahnya meninggalkan jejak mendalam di tanah. Udara di sekitarnya terasa panas, dan bau logam memenuhi udara.

"Kau masih berdiri di sana?" tanyanya dengan suara yang kini terdengar garang dan dalam, seperti dua suara berbicara bersamaan. "Kamu sungguh hebat bisa memaksaku hingga ke titik ini. Aku akan memastikan kau tidak akan berdiri lagi."

Lynx semakin merasakan perasaan yang tidak bisa dia ungkapkan, kekuatan lawannya semakin meningkat drastis, tidak seperti manusia pada umumnya. Dia tetap tenang, meskipun ia kini memperhatikan setiap detail lawannya dengan lebih serius. "Jadi ini alasan kau begitu percaya diri? Karena perubahan itu?"

Orang misterius itu tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai gantinya, ia melompat ke arah Lynx dengan kecepatan yang luar biasa untuk tubuh sebesar itu. Tinju besar menghantam ke arah Lynx seperti palu godam.

Namun, Lynx menghindarinya dengan gesit, bergerak seolah-olah ia sudah tahu ke mana serangan itu akan datang. Tanah tempat tinju itu mendarat hancur, debu dan serpihan beterbangan ke udara.

Penonton tersentak.

"Dia berhasil menghindar!"

"Bagaimana mungkin? Kecepatan kedua orang itu tidak masuk akal!"

"Kecepatan mereka bukan seperti manusia lagi,"

"Bukankah Lynx tidak menggunakan ramuan apapun, tapi tetap bisa melawan orang itu." Kata salah satu penonton yang membuat kehebohan di barisan para penonton di suku Raksa. Mereka baru menyadari sejak awal Lynx tidak menggunakan senjata atau ramuan apapun untuk melawan musuhnya namun hingga saat ini dia tidak ada terluka, bahkan tetap dapat mengimbangi kekuatan dan kecepatan lawannya.

"Lynx, aku mencintaimu," teriak para penonton dari kalangan wanita. Mereka adalah prajurit wanita, dari sejak kecil mereka telah berlatih bertarung dan menghadapi bahaya. Kekuatan mereka tidak bisa diremehkan dan mereka selalu mengagumi para pria yang memiliki kekuatan yang lebih besar dari mereka. Melihat Lynx yang terlihat seperti pria yang lemah dengan kulit halus melebihi kulit wanita namun memiliki kekuatan yang sangat dahsyat membuat jantung mereka berdebar kencang.

Rira yang memperhatikan jalannya pertandingan Lynx ikut merasakan detak jantungnya berdebar kencang. "Bukan hanya baik hati dan tidak sombong, dia juga sungguh hebat, luar biasa dalam bertarung".

Sementara itu di pertandingan, lawan Lynx tidak berhenti. Ia menyerang lagi, kali ini dengan pukulan bertubi-tubi yang membuat udara bergetar. Lynx terus menghindar, tubuhnya bergerak dengan kecepatan yang sulit diikuti mata manusia.

"Diam di tempat!" teriak orang misterius itu dengan marah.

Lynx akhirnya melompat ke belakang, memberikan jarak di antara mereka. Ia menatap lawannya dengan senyum kecil. "Kau bisa mencoba memukulku sepanjang hari, tapi itu tidak akan berhasil jika kau hanya mengandalkan kekuatan kasar."

Lawan Lynx menggeram keras, lalu meraih kapaknya lagi. Ia mengayunkannya dengan tenaga yang cukup untuk membelah batu, menciptakan gelombang udara yang menghantam arena.

Namun, sekali lagi, Lynx menghindarinya dengan mulus. Ia meluncur di bawah serangan itu, muncul di sisi lawannya, lalu memukul ringan bahunya dengan tangan kosong. Saat memukul, Lynx menyalurkan sedikit energinya ke tangan.

"Kalau hanya mengandalkan kekuatan, kau tidak akan bisa mengalahkanku," kata Lynx dengan nada santai.

Tapi serangan ringan itu membuat orang misterius itu tersentak mundur. Ia memegangi bahunya, wajahnya menunjukkan rasa sakit yang jelas.

"Tidak mungkin..." gumamnya. "Bagaimana bisa serangan kecil itu menyakitiku?"

Arkha, yang masih memperhatikan, tersenyum tipis. "Dia tidak hanya menghindar. Dia juga menyerang titik-titik lemah lawannya dengan tepat."

Banu, yang berdiri di tepi arena dengan wajah kesal, mendengus. "Dia cuma beruntung. Lihat saja, mutasi itu pasti akan membalikkan keadaan."

Orang misterius itu akhirnya kehilangan kesabaran. Ia mengangkat kapaknya tinggi-tinggi, mengisi seluruh kekuatannya ke dalam satu serangan mematikan.

"Kau tidak akan bisa menghindari ini!" teriaknya, lalu menghantamkan kapaknya ke arah Lynx dengan seluruh tenaganya.

Tapi Lynx tidak bergerak. Ia tetap berdiri di tempat, menatap serangan itu dengan ekspresi tenang.

Penonton menahan napas.

"Lynx! Awas!" Teriak Rira dengan rasa khawatir melihat kekuatan serangan yang dikeluarkan lawannya.

Namun, pada detik terakhir, Lynx mengangkat tangannya dan menghentikan kapak itu dengan kedua telapak tangannya.

BRAK!

Suara benturan keras memenuhi udara, tetapi Lynx tetap berdiri kokoh. Tidak ada goresan atau luka di tangannya.

Orang misterius itu membelalak, matanya dipenuhi ketidakpercayaan melihat senjatanya terjepit diantara kedua telapak tangan lawannya. "Apa-apaan kau?!"

Lynx menatapnya dengan mata tajam. "Kau hanya bermain-main dengan kekuatan yang kau tidak pahami."

Dengan satu gerakan cepat, Lynx meraih gagang kapak itu dan mematahkannya menjadi dua.

Arena hening. Penonton tidak bisa berkata apa-apa.

"Kau ingin melanjutkan?" tanya Lynx sambil melangkah maju.

Orang misterius itu mundur beberapa langkah, matanya penuh kebingungan dan ketakutan. Tapi Lynx tidak memberinya waktu untuk berpikir. Dengan kecepatan yang luar biasa, ia muncul di depan lawannya, mengayunkan kakinya dalam satu tendangan yang membuat orang misterius itu terlempar jauh keluar arena, menghantam tanah dengan keras.

Sorakan meledak dari penonton.

"Kau lihat itu?! Dia menghentikan kapaknya dengan tangan kosong!"

"Dia bukan manusia!"

Di tepi arena, Rira menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca. "Dia... dia benar-benar luar biasa."

Kanha melompat kegirangan. "Aku sudah bilang! Kak Lynx itu tak terkalahkan!"

Namun, Lynx hanya berdiri diam, menatap lawannya yang tergeletak di tanah. "Jangan pernah mengorbankan dirimu untuk kekuatan yang salah," katanya pelan, hampir seperti peringatan.

Orang misterius itu berdiri goyah setelah terlempar oleh tendangan Lynx. Namun, alih-alih menyerah atau mundur, dia meraih salah satu penonton yang berdiri terlalu dekat dengan arena.

"Lepaskan dia!" teriak Lynx, matanya menyipit marah melihat gerakan yang dilakukan lawannya.

Namun, tanpa ragu, orang misterius itu mengayunkan tangannya, membunuh pria tua itu seketika. Darah mengucur deras ke tangannya, dan dia menatap Lynx dengan seringai kejam.

"Tonton ini," katanya dingin.

Dia membuka botol kecil dari kantong di sabuknya, cairan merah gelap yang berbau busuk dituangkan ke tangannya yang berdarah. Dengan gerakan cepat, dia menelan darah bercampur cairan itu, diikuti dengan batu hitam kecil yang bersinar redup.

Tubuhnya langsung berguncang hebat. Suara retakan tulang yang mengerikan memenuhi udara. Kulitnya mulai berubah, memunculkan sisik tebal berwarna abu-abu gelap. Taring mencuat dari rahangnya yang membesar, dan matanya berubah merah terang. Punggungnya melengkung seperti monster, dan cakar tajam tumbuh dari ujung jarinya.

"Tidak..." salah satu panitia bergumam, terkejut. "Dia... dia bukan dari suku kita..."

Seseorang di kerumunan menjerit, menunjuk ke arah monster itu. "Itu Monrest! Dia dari suku Monrest!"

Kepanikan langsung menyebar di antara kerumunan. Orang-orang mulai berlarian ke segala arah, berusaha menjauh dari makhluk yang baru saja terlahir di depan mereka.

Makhluk itu—sekarang lebih menyerupai monster daripada manusia—mengeluarkan suara tawa yang mengerikan. "Kalian pikir aku hanya peserta biasa? Tidak. Aku adalah Valgor, dari suku Monrest!"

Valgor berdiri di tengah arena dengan tubuh raksasanya yang bermutasi. Sisik hitamnya memantulkan sinar matahari yang mulai condong ke barat, sementara taringnya yang besar mengerikan menjulur dari rahangnya yang berubah bentuk. Ia memandangi Lynx, matanya menyala dengan kebencian sekaligus rasa gembira yang mengerikan.

Namanya seperti dentuman keras di tengah kepanikan. Valgor melangkah maju, menghancurkan batu di bawah kakinya dengan mudah. Dia mengangkat tangannya tinggi-tinggi, memberi isyarat kepada sesuatu di balik pepohonan.

Dari kegelapan hutan, ratusan prajurit bersenjata muncul satu per satu. Mereka mengenakan armor kasar yang terbuat dari kulit dan tulang, wajah mereka bengis. Beberapa membawa tombak panjang, sementara yang lain membawa kapak dan busur.

“Jadi kau Lynx,” katanya, suara dalamnya bergema seperti gemuruh petir. “Yang telah membunuh Revan, Kargo, dan Jor. Pimpinan-pimpinan terbaik kami.”

Lynx memiringkan kepala, menatap Valgor tanpa ekspresi. “Aku hanya membela diri. Mereka yang memulai.”

Valgor tertawa keras, menunjukkan deretan giginya yang kini berbentuk taring. “Membela diri? Kau membunuh mereka dengan kejam! Dan sekarang aku mengerti kenapa Demon menginginkan kepalamu. Aku tidak percaya keberuntungan menyertaiku hari ini.”

"Suku Raksa yang tercinta," Valgor berkata dengan suara yang bergema di seluruh area. "Ini adalah hari terakhir kalian. Kami akan mengakhiri kalian semua di sini, dan membawa darah kalian sebagai persembahan untuk ritual besar berikutnya."

Arkha, yang berdiri di pinggir arena, menggeram marah. "Mereka menyamar untuk memanfaatkan pertandingan ini sebagai perangkap..."

Banu, yang masih memegangi luka di lengannya, terbelalak melihat situasi itu. "Ini gila! Mereka mengepung kita!"

Anak-anak menangis, wanita-wanita tua saling berpegangan erat. Para pria yang lebih tua mulai mengangkat senjata seadanya, meskipun jelas terlihat ketakutan.

Rira berlari mendekati Lynx, wajahnya pucat. "Apa yang harus kita lakukan? Mereka membawa pasukan penuh! Kita tidak punya kesempatan!"

Lynx tetap tenang, menatap sekeliling. Pasukan Monrest yang berjumlah sekitar tiga ratus orang itu kini sepenuhnya mengepung arena pertandingan. Tidak ada jalan keluar. Kini dia menyadari, perasaan asing yang dia rasakan sebelumnya bukan tanpa alasan, aura membunuh dan kekejaman suku Monrest serta bahaya perangkap di sekitarnya yang membuat instingnya memberi peringatan.

"Kita akan melawan," kata Lynx dengan nada datar tapi penuh keyakinan.

"Kau gila?!" Banu melangkah mendekat. "Mereka ada ratusan orang, dan kita hanya punya sedikit prajurit yang mampu bertarung! Kau pikir kita bisa menang?"

Lynx menatapnya tajam. "Kita tidak punya pilihan lain sekarang."

Anak-anak, wanita, dan pria tua mulai bergerak ke tengah arena, berkumpul untuk mencari perlindungan. Arkha dan para pejuang yang masih berdiri mulai membentuk barisan melindungi mereka, meskipun jelas bahwa mereka kalah jumlah.

"Jangan biarkan ketakutan menguasai kalian!" seru Arkha, mencoba memberi semangat kepada orang-orang di sekitarnya.

Sementara itu, Valgor melangkah maju, tubuh monsternya menjulang tinggi di depan para prajuritnya. "Kalian tidak punya tempat untuk lari," katanya sambil tertawa. "Serahkan diri kalian, atau mati seperti anjing di tempat ini."

Namun, di tengah semua kekacauan, Lynx berdiri tegak. Dia menatap Valgor, lalu ke arah pasukan Monrest di sekitarnya.


